Kasdim 0712/Tegal Dampingi Gubernur Jawa Tengah Tinjau Bencana Tanah Bergerak di Desa Padasari
Tegal – Kepala Staf Kodim (Kasdim) 0712/Tegal Mayor Cpm
Abdul Khamim mendampingi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Bupati Tegal
Ischak Maulana Rohman meninjau langsung lokasi bencana tanah bergerak di Desa
Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Rabu (04/02/2026).
Peninjauan tersebut dilakukan guna memastikan langkah
penanganan darurat berjalan cepat, terkoordinasi, dan berkelanjutan demi
menjamin keselamatan serta pemenuhan kebutuhan warga terdampak, mengingat
bencana tanah bergerak hingga saat ini masih berlangsung dan berpotensi meluas.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Daerah
Kabupaten Tegal, Kepala BPBD Kabupaten Tegal, Kapolres Tegal, unsur TNI/Polri,
Forkopimda, Forkopimcam Jatinegara, serta perangkat Desa Padasari.
Bencana tanah bergerak diketahui mulai terjadi sejak Senin
(02/02/2026). Curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah
tersebut sejak pukul 14.00 WIB diduga menjadi pemicu, hingga sekitar pukul
19.00 WIB terdeteksi adanya pergerakan tanah. Menyikapi kondisi tersebut, BPBD
Kabupaten Tegal bersama Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) dan
unsur terkait segera melaksanakan asesmen, koordinasi, serta evakuasi warga ke
lokasi yang lebih aman.
Hingga saat ini, tercatat sekitar 200 rumah atau 200 kepala
keluarga dengan jumlah sekitar 700 jiwa telah dievakuasi ke sejumlah titik
pengungsian. Dalam peristiwa ini tidak terdapat korban jiwa, namun dampak
kerusakan cukup signifikan, meliputi permukiman warga serta fasilitas umum,
termasuk fasilitas pendidikan SMA NU Al-Adalah yang berada di kompleks Pondok
Pesantren Al-Adalah.
Dalam pemaparan bersama Gubernur Jawa Tengah, Bupati Tegal
menyampaikan hasil pendataan sementara tingkat kerusakan bangunan per 4
Februari 2026 pukul 14.10 WIB. Dari 161 unit rumah yang telah terdata, 109 unit
mengalami rusak berat, 26 unit rusak sedang, dan 26 unit rusak ringan. Secara
keseluruhan, dampak bencana diperkirakan mencapai sekitar 250 rumah dengan
jumlah penduduk terdampak sekitar 250 KK atau 760 jiwa.
Selain permukiman warga, bencana tanah bergerak juga
mengakibatkan kerusakan infrastruktur vital, meliputi tiga titik jalan desa dan
kabupaten, satu bendung irigasi, serta satu jembatan desa. Sejumlah fasilitas
pemerintahan, pendidikan, peribadatan, dan layanan kesehatan turut terdampak.
Sementara itu, total pengungsi hingga saat ini tercatat
sebanyak 1.154 jiwa, terdiri dari 628 warga dan 526 santri, yang tersebar di
berbagai lokasi pengungsian, antara lain rumah warga, majelis taklim, sekolah,
serta pondok pesantren.
Dalam arahannya, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi
menekankan pentingnya kesiapsiagaan seluruh unsur serta penanganan yang tidak
bersifat sementara.
“Saya minta seluruh unsur siaga. Harus ada langkah
antisipasi dan pencegahan. Jangan sampai ada kejadian susulan yang tidak
tertangani,” tegas Gubernur.
Gubernur juga menegaskan bahwa penanganan bencana harus
dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar hingga
jaminan masa depan masyarakat terdampak.
“Kita tidak bisa hanya memberi bantuan lalu selesai. Semua
yang membutuhkan hunian sementara dan hunian tetap harus didukung. Hari ini di
Tegal, semua harus cukup, mulai dapur, sekolah, dan kebutuhan lainnya. Jalan
dan jembatan itu prioritas. Kalau ada jembatan putus, maksimal satu minggu
harus selesai, bahkan tiga hari sudah tertangani,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Tegal bersama Pemerintah Provinsi Jawa
Tengah memastikan penanganan darurat akan terus dilakukan secara terpadu selama
masa tanggap darurat 14 hari, sembari menunggu rekomendasi teknis dari Badan
Geologi terkait keamanan lahan serta rencana relokasi warga terdampak.

Komentar
Posting Komentar